Showing posts with label Virtualisasi. Show all posts
Showing posts with label Virtualisasi. Show all posts

Friday, 16 September 2016

Integrasi FreeNAS NFS dengan PVE Proxmox

Leave a Comment
Assalamulaikum Wr. Wb.
     Pada kesempatan kali ini saya akan share tentang cara menambahkan penyimpanan NFS Freenas ke Proxmox. Penambahan penyimpanan NFS Freenas ke proxmox ini bertujuan agar Proxmox mempunyai penyimpanan terpusat. Nah untuk lebih lengkapnya yuk kita pahami penjelasan berikut.


A. Pengertian

 FreeNAS adalah distro linux yang khusus di gunakan sebagai sistem operasi NAS (Network Attacher Storage) berbasis FreeBSD. biasanya di gunakan untuk keperluan Share storage yaitu sebuah volume/partisi hardisk yang di gunakan bersama-sama oleh beberapa komputer atau server. Semua halnya seperti Proxmox FreeNAS juga akan memakan seluruh hardisk untukproses instalasinya sehingga untuk lebih efektit, sistem FreeNAS di install di sebuah flashdisk atau hardisk dengan ukuran yang kecil kareana FreeNAS memiliki sistem yang tidak terlalu besar

Sebuah sistem pastinya memiliki spesifikasi hardwere yang harus terpenuhi. Untuk kebutuhan sistem FreeNAS adalah

  • Aesitektur sistem 64 bit. Meski FreeNAS tersedia untuk 32-bit dan 64-bit, sebaiknya direkomendasikan menggunakan 64-bit, baik karena pertimbangan memory yang bisa digunakan maupun terkait dengan sistem partisi. Jika menggunakan sistem 23-bit atau memory kurang dari 4 GB direkomendasikan gunakan sistem partisi UFS.
  • RAM. Jika menggunakan ZTS sebaiknya RAM minimal 6 GB. Jika kurang, sangat direkomendasikan menggunakan tipe UFS. Jika menggunakan Active Directory dengan FreeNAS tambahkan 2 GB RAM untuk windbind's internal cache.
  • Share Memory. Jika FreeNAS diinstall tanpa GUI, disable share memory setting untuk video card BIOS.
  • Compact or USB Flash. FreeNAS adalah image sistem yang berjalan. Ini artinya FreeNAS tidak di sarankan diinstall di dalam hardisk karana menyebabkan kapasitas hardisk terbuang. Karena sifat FreeNAS yang akan memakai seluruh kapasitas hardisk.
  • Hardisk. Tidak direkomendasikan menggunakan hardisk SATA. Sebaiknya gunakan hardisk SAS 10.000 atau 15.000 RPM dalam format RAID 10 . Hardisk SATA didesain untuk single user sequential I/O sehingga tidak cocok bila digunakan untuk proses write multi user.
  • Network Interfaces. Secara umun NIC  card yang bisa di support oleh FreeNAS adalah NIC yang terdapat pada FreeBSD Computibility List. Meski demikian banyak user FreeBSD yang merekomendasikan NIC dari Intel dan Chelsio. Gunakan NIC GigE (10 Gbps) untuk kecepatan yang bagus. Jika perlu, bonding beberapa NIC menjadi satu agar mampu menyediakan koneksi yang lebih besar. saat ini FreeNAS belum mendukung : InfiniBand, Fiber Chanel over Ethernet atau wireless interface. 


B. Latar Belakang

     Jika hanya satu server proxmox saja, mungkin penyimpanan di luar server belum terlalu dibutuhkan, akan tetapi bagaiman jika terdapat banyak server proxmox ?. Pastinya akan merlukan penyimpanan yang banyak untuk setiap severnnya. Maka dari itu kita memerlukan sebuah server yang khusus digunakan untuk penyimpanan. Dengan adanya server khusus untuk penyimpanan ini, maka server-sever yang lain akan menggunakan server ini sebagai penyimpanan terpusat sehingga lebih efektif.  


C. Jangka Waktu Kegiatan
     Kegiatan ini memerlukan waktu kurang dari 30 menit.


D. Persiapan Software dan Hardware
  • 1 Komputer Server Proxmox
  • 1 Komputer Server Freenas

E. Maksud dan Tujuan

      Kegiatan ini mempunyai maksud dan tujuan untuk menambahkan penyimpanan yang ada pada proxmox dengan penyimpanan NFS yang sudah dibuat dalam Server Freenas.


F. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

1. Klik pada Datacenter --> beralihlah ke tab Storage --> klik Add --> pilih tipe penyimpanan NFS.


2. Kemudian muncul jendela penambahan penyimpanan NFS

  • Pada ID : masukkan nama penyimpanan NFS pada Freenas yang telah kita buat.
  • Pada Server : masukkan IP Freenas utama kita yaitu “10.10.4.1”.
  • Pada Export : isi dengan alamat direktori dari penyimpanan NFS yang telah kita buat pada Freenas.
  • Pada Content : pilih semua content yang terdapat pada opsi tersebut


3. Klik Add untuk menambahkan penyimpanan.


4. Setelah itu maka penyimpanan NFS Freenas akan ditambahkan pada Datacenter sebagai penyimpanan.


5. Penyimpanan NFS ini akan kita jadikan sebagai penyimpanan terpusat / tercentral untuk efisiensi penyimpanan, sehingga seluruh pve akan memliki satu penyimpanan yaitu penyimpanan NFS yang telah kita buat pada Freenas.


G. Referensi

Sumber : http://ivanposting.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-freenas-dan-kebutuhannya.html


H. Hasil Yang Didapatkan
   
    Hasil dari kegiatan ini adalah kita dapat menambahkan penyimpanan pada proxmox dengan penyimpanan eksternal yaitu penyimpanan NFS yang dibuat pada Freenas

I. Kesimpulan

     Dengan melakukan kegiatan konfigurasi penyimpanan Freenas NFS Share pada Proxmox ini, kita dapat menambahkan penyimpanan Freenas ke Proxmox. Dengan penambahan penyimpanan ini, otomatis promox akan mempunyai penyimpanan terpusat, yaitu pada Freenas


     Sekian dari saya, mohon maaf sebesar-besarnya jika terdapat banyak kesalahan dalam postingan saya ^.^ 

Wassalamualikum Wr. Wb.
Read More

Thursday, 15 September 2016

Konfigurasi Perangkat Jaringan FreeNAS 9.10

Leave a Comment

Konfigurasi Perangkat Jaringan FreeNAS  9.10

  1. Pengertian

    FreeNAS adalah perangkat lunak bebas dan open source penyimpanan (NAS) sistem Network Attached berdasarkan FreeBSD dan sistem OpenZFS berkas. Hal ini berlisensi di bawah Lisensi BSD dan berjalan pada hardware x86-64 komoditas. FreeNAS mendukung Windows, OS X dan Unix klien dan berbagai host virtualisasi seperti XenServer dan VMware menggunakan CIFS tersebut, AFP, NFS, iSCSI, SSH, rsync dan FTP protokol / TFTP. Fitur canggih FreeNAS termasuk full-disk kriptografi dan arsitektur plug-in untuk perangkat lunak pihak ketiga.

  1. Maksud dan Tujuan

  1. Konfigurasi perangkat jaringan pada sistem operasi FreeNAS hingga bisa digunakan untuk diremote melalui Web. 
  1. Latar Belakang

    Kebutuhan akan Server yang mampu mewadahi seluruh data dari server-server lainnya dengan pengiriman data melalui jaringan, sehingga memudahkan administrator dalam memanajemen seluruh file tanpa harus terlalu terfokus pada perangkat-perangkat fisik yang rentan.

  1. Jangka Waktu Pelaksanaan Kegiatan

    Kurang lebih 30 menit.

  1. Alat dan Bahan

  1. Seperangkat Komputer lengkap yang sudah terinstall sistem operasi FreeNAS.
  1. Tahapan dan Langkah Kegiatan

  1. Pengaturan Dasar

    1. Pertama-tama kita booting FreeNAS dari GRUB Loader.
    2. Kemudian pilih Normal Bootup.
    3. Setelah itu akan ada proses booting sebentar.
    4. Lalu masuk ke tampilan awal, memilih tindakan apa yang ingin dilakukan. Ada 14 opsi yang bisa dilakukan.
    5. Setelah itu kita pilih 1 untuk konfigurasi perangkat jaringan. 
    6. Lalu akan ada opsi lainnya untuk memilih interface atau perangkat mana yang akan dikonfigurasi. Biasanya hal ini berdasarkan jumlah dari perangkat jaringan yang dimiliki oleh masing-masing komputer. Jika ada lebih dari dua sesuaikan perangkat mana yang akan dipilih. Kalau untuk contoh ini milik saya hanya memiliki satu perangkat, jadi langsung pilih satu.  
    7. Selanjutnya akan ada pertanyaan untuk mereset konfigurasi atau tidak. Pilih tidak dengan memasukkan n lalu tekan enter.  Fungsi reset ini hampir seperti merestart service jaringan.
    8. Kemudian pertanyaan untuk mengkonfigurasi dengan DHCP atau tidak. Pilih tidak dengan menekan n lalu tekan enter. Jika mengonfigurasinya dengan DHCP, pilih ya. Namun karena saya akan praktik konfigurasi statik, maka saya tidak. 
    9. Lalu pertanyaan untuk konfigurasi IPv4 masukkan y untuk ya.   
    10. Kemudian kita diminta memberi nama untuk interface yang akan kita seting. Milik saya, saya beri nama eth0.
    11. Setelah itu memasukkan IP Address yang akan dipakai untuk perangkat tersebut. Formatnya seperti biasa, tapi kita juga langsung memasukkan prefik dibelakangnya agar tak perlu memasukkan subnet mask. Tapi untuk milik saya ini cukup IP Address saja.
    12. Lalu baru setelah itu memasukkan Subnet Mask dari IP tadi. 
    13. Kemudian selesai pengaturan IPv4, lalu ada pertanyaan apakah akan mengonfigurasi IPv6 atau tidak. Kalau saya pilih tidak karena tidak akan mengonfigurasi IPv6, di sisi lain juga berlum diperlukan.
    14. a   Setelah itu akan selesai konfigurasi. Maka kembali ke menu awal tadi tampilannya.
    15. Setelah itu kita bisa langsung mencoba dengan meremote FreeNAS tersebut melalui perangkat yang jaringannya tersambung dengan FreeNAS dengan menggunakan Web Browser dan langsung menuju IP dari FreeNAS tersebut.
  1. Hasil yang didapatkan

Pada konfigurasi tidak terjadi kendala apapun baik dalam bentuk pemahaman maupun praktik. Meski begitu dalam konfigurasi tadi masihlah pengaturan paling dasar tanpa pengaturan-pengaturan tambahan lainnya. Tentu saja jika kita ingin menggunakan fitur-fitur lainnya maka kita perlu memahami pengaturan lainnya.
  1. Kesimpulan

    Pengaturan perangkat jaringan pada FreeNAS ini cukup mudah jika dipraktikan karena pengaturannya diatur sedemikian rupa meskipun dalam bentuk CLI masih dapat dengan mudah dpilih, yakni dengan opsi-opsi. Sehingga kita tidak perlu repot-repot mengetikkan perintah satu-persatu. Meski begitu kita masih tetap bisa mengaturnya normal seperti pada linux-linux lainnya yakni dengan masuk ke mode "shell".

  2. Referensi



Read More

Tuesday, 30 August 2016

Instalasi dan Konfigurasi Dasar CMS dengan Aplikasi Web Server Moodle v3.1 pada Debian Server 8.5

Leave a Comment

Instalasi dan Konfigurasi Dasar CMS dengan Aplikasi Web Server Moodle

  1. Pengertian

CMS adalah aplikasi Web Server yang digunakan untuk membuat ataupun memodifikasi data digital khususnya dalam suatu Web Server dengan menggunakan user interface dan juga manajemen yang simpel untuk memudahkan administrator ketika memanajemen Web Server dan Server yang berkaitan (seperti Database Server) tanpa perlu mempelajari pemahaman mendasar dari pengetahuan mengenai Web Server dan server-server terkait. Jadi semisal apabila administrator ingin memanajemen Web Server atau Database Server, ia tak perlu repot-repot mempelajari pemrograman Web, dan Pemrograman yang digunakan Database Server dari dasar. Cukup memanajemen dari CMS dengan interface GUI yang lebih mudah dikonfigurasi. CMS biasanya biasanya digunakan ketika suatu Web Server memiliki  beberapa administrator. Dalam penerapannya, CMS terbagi menjadi 2 :
  • Aplikasi Manajemen Konten (Content Management Application, CMA)
  • Aplikasi Pengirim Konten (Content Delivery Application, CDA)
Elemen CMA ditujukan pada user atau administrator yang tidak memiliki pengetahuan mengenai HTML untuk membuatan, mengubahan, atau menghapus isi dari suatu situs web. Sehingga admin atau user tersebut tidak perlu memiliki keahlian sebagai seorang webmaster. Elemen CDA berfungsi mengolah dan menghimpun informasi-informasi yang sebelumnya telah ditambah, dikurangi atau diubah oleh pemilik situs web untuk memperbaharui situs web tersebut. Kemampuan atau fitur dari sebuah sistem CMS cukup bervariasi. Walaupun begitu, kebanyakan dari perangkat lunak ini memiliki fitur publikasi berbasis Web, manajemen format, kontrol revisi, pembuatan indeks, pencarian, dan penyimpanan.
  1. Maksud dan Tujuan

  1. Pembuatan CMS dengan menggunakan Aplikasi Web Server Moodle v.31
  2. Konfigurasi dasar setelah install Moodle.
  1. Latar Belakang
    Karena ketersediaan teknologi yang semakin berkembang, maka dengan itu kita harus mempergunakan teknologi tersebut sebaik-baiknya. Semisal saat kita memanajemen suatu Web Server atau Server lain (yang berkaitan), tentunya untuk orang awam yang tidak tahu akan CMS pasti akan mengeditnya secara manual dengan belajar dari dasar. Namun kini sudah banyak Aplikasi yang dapat memudahkan manajemen maupun modifikasi Web Server tersebut.

  1. Jangka Waktu Pelaksanaan Kegiatan

  2. Sekitar 3-4 jam tergantung koneksi jaringan dan juga spesifikasi Server, mulai dari persiapan, instalasi, dan pengaturan dasar.

  1. Alat dan Bahan

  1. 1 PC Server.
  2. 1 Laptop (optional untuk admin).
  3. Koneksi internet.
Tahapan dan Langkah Kegiatan
  1. Pengaturan Dasar

Sesuai pada Guide di Website Resmi Moodle kita pastikan Server kita sudah memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
    • Terinstall Web Server seperti apache2, nginX. Kalu menggunakan apache2 dengan menginstall-nya menggunakan syntax :
      #apt-get install apache2
      Berikut ini hasil cek Web Server, masih default tapi sudah saya install. 
    • Terinstall php terkonfigurasi yang cocok dengan Web Server dan juga ekstensinya. Untuk saya menggunakan php versi 5.6, #apt-get install php5
    • Sudah saya test dengan membuka file info.php.
      <? phpinfo(); ?>
      Hasil outputnya:
    • Lalu berikut ini konfigurasi yang perlu dipastikan pada file "php.ini" atau file .htaccess untuk opsional :
      • memory_limit setidaknya 64M , 128M direkomendasikan.
      • session.save_handler harus diset ke FILES.
      • file_uploads harus diset ON.
      • session.auto_start harus diset OFF.
      • post_max_size dan upload_max_filesize akan membatasi ukuran maksimum file yang dapat diupload.
    • Berikut ini list dari ekstensi yang dibutuhkan :
      • iconv 
      • curl 
      • ctype
      • zip
      • simplexml
      • spl 
      • pcre 
      • dom
      • xml 
      • json
    • Untuk mengeceknya tidak perlu repot-repot satu persatu diinstall, namun bisa langsung jadi satu dalam single command, berikut syntaxnya :
      #apt-get install php5- iconv php5- curl php5- ctype php5-zip php5- simplexml php5-spl  php5-pcre  php5-dom  php5-xml  php5-json 
      Maka semua ekstensi yang belum terinstall akan terinstall, dan ekstensi yang sudah terinstall akan ada pemberitahuannya.
    • Dan ini ekstensi yang direkomendasikan :
      • mbstring 
      • openssl 
      • tokenizer 
      • xmlrpc 
      • soap 
      • gd 
      • intl 
    • Untuk cara install hampir sama dengan yang sebelumnya, cukup ganti nama package "php5-[nama package diatas]" dst.
    • Terinstall Database Server seperti MySQL, MariaDB, dan sebagainya. Kalau saya menggunakan Database MySQL, berikut syntax installnya :
      #apt-get install mysql-server 
      Untuk user dan password Database isi sesuai keinginan.
      Buat juga database dengan nama moodle, dan juga beri pengaturannya. untuk syntaxnya sebagai berikut :
      #mysql -u root -p            =====>>> lalu masukkan password saat install database.
      mysql>CREATE DATABASE moodle DEFAULT CHARACTER SET UTF8 COLLATE utf8_unicode_ci;
      mysql>GRANT SELECT, INSERT, UPDATE, DELETE, CREATE, CREATE TEMPORARY TABLES, DROP, INDEX, ALTER ON moodle.* TO 'moodleuser'@'localhost' IDENTIFIED BY 'yourpassword';
  1. Instalasi
    1. Pertama-tama kita ambil file instalasi software moodle dari internet. Untuk caranya kita bisa pakai dua cara, yakni pertama kita download file langsung dari internet dengan menggunakan browser, lalu file hasil download tadi kita taruh di Web kita, atau cara kedua langsung melalui git repositori. menggunakan syntax:
      #
      clone -b MOODLE_31_STABLE git://git.moodle.org/moodle.git
    2. Untuk cara selengkapnya menggunakan git untuk install moodle bisa dilihat di sini. 
    3. Namun kalau saya menggunakan cara pertama, yakni dengan mendownload file zip instalasi moodle di sini.
    4. Kemudian dari folder file download tadi saya menggunakan secure copy atau scp untuk meng-copy file instalasi menuju folder /var/www/html di Web Server saya. Untuk peletakan file tidak harus sama seperti milik saya, namun file tersebut harus berada di dalam folder yang berisi file dari Website. Karena nantinya file hasil ekstraknya harus dieksekusi melalui browser, jika tidak ditaruh di situ maka kita tidak akan bisa mengaksesnya. Berikut ini syntax untuk copy-nya :
      # scp [namafilemoodlehasildownload] [useryangpunyahakaksesmenulisdiserver]@[ipserver]:[direktoridiservertujuan]

      Milik saya menggunakan syntax ini.
      # scp moodlee-latest-31.zip root@192.168.1.254:/var/www/html

      Ini setelah selesai copy.
    5. Setelah itu kita ekstrak file .zip hasil copy tadi dengan perintah unzip [namafile]. Jika filenya sama seperti milik saya bisa pakai syntax unzip moodlee-latest-31.zip. Kemudian tunggu sebentar.
    6.  Setelah itu akan ada folder hasil ekstrak dari file .zip tadi. 
    7. Kita ubah juga pengaturan hak kepemilikannya dengan perintah chown www-data:www-data moodle/. agar pada saat dieksekusi dari juga dibaca ataupun dimodifikasi pada Web Browser diizinkan.
    8. Setelah itu baru kita buka folder hasil ekstraksi tadi dari browser. Ketikan ip addressnya sebagai Web Address diikuti dengan direktori hasil ekstraksi tadi. Contohnya milik saya ini sesuai peletakkan file pada langkah sebelumnya. Saya gunakan link 192.168.1.254/moodle. Setelah itu klik pada tombol next warna biru. Jika ingin ubah bahasa, ubah sesuai kebutuhan.
    9. Setelah itu window selanjutnya kita memilih path untuk instalasi moodle. Dalam artian path untuk meletakkan file hasil instalasi dan juga file pemrosesan dari aplikasi Moodle. Untuk bagian ini kita hanya bisa mengubah direktori untuk direktori data dari moodle, yang lainnya sudah otomatis. 
    10. Untuk direktori saya membuatnya terlebih dahulu dengan mkdir moodledata (kotak merah) di /var/www/ lalu saya mengubah hak kepemilikannya juga menjadi milik web-data dengan syntax chown www-data:www-data moodledata/ (kotak biru).
    11. Setelah itu masuk ke window selanjutnya kita memilih Database yang akan digunakan untuk penyimpanan Moodle. Untuk saya pakai MySQL,  pilih Improved MySQL.
    12. Setelah memilih database, selanjutnya kita akan diminta untuk membuat database untuk moodle. Kita masukkan juga user dan password yang kita gunakan pada saat install MySQL Server tadi. 
    13. Kemudian selanjutnya akan masuk window konfirmasi pengaturan yang sebelumnya kita masukkan. Untuk melanjutkan klik next.
    14. Setelah itu masuk ke semacam window license agreement. Klik continue untuk menyetujui dan melanjutkan.
    15. Setelah itu instalasi akan mengecek persyaratan pada Web Server yang akan kita install Moodle. Jika semua perangkat lunak dan juga ekstensinya sudah terinstall dengan benar, maka seharusnya statusnya OK semua. Untuk rinciannya ditulis pada bagian Report.

    16. Setelah itu akan diminta untuk memasukkan user baru untuk Moodle. Di sini saya membuat user untuk admin dengan nama admin dengan rincian seperti pada gambar di bawah ini :
      Kolom dengan tanda bintang warna merah (*) harus diisi. Untuk password, pastikan ada huruf besar dan kecil, angka, dan juga karakter simbol.

    17. Lalu untuk menyimpan klik Update profile. 
    18. Setelah itu kita akan disuruh untuk mengatur Front Page atau Halaman Awal.
    19. Lalu kllik Save changes.
    20. Setelah itu akan langsung masuk ke  window awal dari user Admin karena tadi kita memang login menggunakan user yang kita buat tadi, yakni Admin.

  2. Konfigurasi Setelah Install

    1. Pertama-tama kita bisa mengatur bahasa dari Moodle agar bisa menjadi Indonesia.
      Klik Site Administration>Language>Language packs. 
    2. Setelah itu ikuti langkah dibawah ini :
      1. Klik pada bahasa yang ingin diinstall, 
      2. Klik Install selected language pack(s)
      3. Setelah bahasa terinstall (muncul pada kolom tengah, klik pada Update all language pack(s).
    3. Selanjutnya klik Site Administration>Language>Language Settings.
    4. Lalu untuk selanjutnya akan muncul tampilan disamping sidebar tadi, pada bagian Default Language ubah menjadi Indonesian (id).
    5. Kemudian simpan dengan klik tombol Save changes.
    6. Selanjutnya akan muncul tambahan pengaturan di pojok kiri atas window untuk memilih bahasa. Karena bahasa yang baru saja disetting tidak akan diterapkan. Untuk mengganti klik pada tombol tersebut, lalu pilih Indonesian (id).
    7. Maka bahasa akan berubah.
  1. Hasil yang didapatkan

    Dengan ini kita berhasil menginstall Aplikasi Web Server CMS dengan jenis Moodle. Sudah bisa dipergunakan dengan baik oleh Adminstrator tanpa harus mempelajari banyak pengetahuan dasar tentang Pemrograman Web dan juga Pemrograman Server lainnya. 

  1. Kesimpulan

    1. Hasil instalasi Moodle tadi sudah bisa digunakan, namun untuk super user-nya masih menggunakan user default saat kita install  tadi. Untuk penambahan user bisa dilihat pada postingan saya yang selanjutnya. Selain itu untuk tampilan masih default, hanya saja pengaturan dasar dari bahasa sudah saya ubah. Selain itu setelah instalasi
    2. Untuk  error yang sering terjadi adalah sebagai berikut : 
      • Kesalahan saat memberi hak kepemilikan pada folder hasil ekstraksi moodle dan folder tempat peletakkan data moodle. Kita harus memastikan pemilik atau owner dari kedua folder tersebut adalah www-data.
      • Lupa instalasi beberapa ekstensi atau beberapa perangkat lunak Server. Kita harus memastikan semua persyaratannya sudah terpenuhi.
      • Gagal saat memasukkan membuat database saat pertama install moodle. Kadang bisa salah user dan password dari Database Server, ataupun belum install ekstensi yang menghubungkan antara Database Server dengan PHP.
      • Kesalahan saat membuat user baru pada Moodle, karena password memerlukan persyaratan tertentu. Yakni harus ada huruf besar, huruf kecil, angka, dan juga simbol yang totalnya menjadi 8 karakter atau lebih.  
  1. Referensi



Read More

Saturday, 30 July 2016

Simulasi Routing OSPF Multi Area Pada Router IOS (Cisco) di GNS3

Leave a Comment
Assalamulaikum Wr. Wb.
     Halo teman-teman, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi tentang bagaimana cara untuk melakukan konfigurasi routing OSPF  multi area pada router Cisco. Sebelum kita langsung ke konfigurasinya, sebaiknya teman-teman terlebih dahulu membaca postingan saya sebelumnya di sini agar tidak bingung nantinya saat konfigurasi multi area.  

A. Pengertian

     Open Shortest Path First (OSPF) adalah sebuah protokol routing otomatis (Dynamic Routing) yang mampu menjaga, mengatur dan mendistribusikan informasi routing antar network mengikuti setiap perubahan jaringan secara dinamis. Pada OSPF dikenal sebuah istilah Autonomus System (AS) yaitu sebuah gabungan dari beberapa jaringan yang sifatnya routing dan memiliki kesamaan metode serta policy pengaturan network, yang semuanya dapat dikendalikan oleh network administrator. Dan memang kebanyakan fitur ini diguakan untuk management dalam skala jaringan yang sangat besar. Oleh karena itu untuk mempermudah penambahan informasi routing dan meminimalisir kesalahan distribusi informasi routing, maka OSPF bisa menjadi sebuah solusi.

    OSPF termasuk di dalam kategori IGP (Interior Gateway Protocol) yang memiliki  kemapuan Link-State dan Alogaritma Djikstra yang jauh lebih efisien dibandingkan protokol IGP yang lain. Dalam operasinya OSPF menggunakan protokol sendiri yaitu protokol 89.

Cara Kerja OSPF

Berikut adalah sedikit gambaran mengenai prinsip kerja dari OSPF:

  • Setiap router membuat Link State Packet (LSP)
  • Kemudian LSP didistribusikan ke semua neighbour menggunakan Link State Advertisement (LSA) type 1 dan menentukan DR dan BDR dalam 1 Area.
  • Masing-masing router menghitung jalur terpendek (Shortest Path) ke semua neighbour berdasarkan cost routing.
  • Jika ada perbedaan atau perubahan tabel routing, router akan mengirimkan LSP  ke DR dan BDR melalui alamat multicast 224.0.0.6
  • LSP akan didistribusikan oleh DR ke router neighbour lain dalam 1 area sehingga semua router neighbour akan melakukan perhitungan ulang jalur terpendek.

Konfigurasi OSPF - Backbone Area

OPSF merupakan protokol routing yang menggunakan konsep hirarki routing, dengan kata lain OSPF mampu membagi-bagi jaringan menjadi beberpa tingkatan. Tingakatan-tingkatan ini diwujudkan dengan menggunakan sistem pengelompokan yaitu area.

OSPF memiliki beberapa tipe area diantaranya:

  • Bakcbone - Area 0 (Area ID 0.0.0.0) -> Bertanggung jawab mendistribusikan informasi routing antara non-backbone area. Semua sub-Area HARUS terhubung dengan backbone secara logikal.
  • Standart/Default Area -> Merupakan sub-Area dari Area 0. Area ini menerima LSA intra-area dan inter-area dar ABR yang terhubung dengan area 0 (Backbone area).
  • Stub Area -> Area yang paling "ujung". Area ini tidak menerima advertise external route (digantikan default area).
  • Not So Stubby Area -> Stub Area yang tidak menerima external route (digantikan default route) dari area lain tetapi masih bisa mendapatkan external route dari router yang masih dalam 1 area.


B. Latar Belakang

Dalam mengkoneksikan antar jaringan yang berbeda, OSPF mempunyai beberapa area yang bisa kita gunakan. Akan tetapi pada saat konfigurasi routing Multi area OSPF, kita harus membuat area yang dinamakan area 0 atau biasa disebut dengan area Backbone. Area backbone ini bisa kita gambarkan sebagai induk dari area-area yang lain yang dapat dibuat oleh OSPF. Kenapa harus ada multi area ? , karena sifat dari protokol Link State adalah dia akan melist seluruh / menayakan kepada seluruh router dan mensinkronkan databasenya antar router 1 dengan yang lain. Bagaimana kalau terdapat banyak sekali client yang terhubung pada satu area ?, jika terdapat banyak client yang terhubung hanya pada satu area saja pada routing OSPF, maka yang akan terjadi adalah router akan sangat terbebani dan tidak bisa optimal. Maka dari permasalahan itulah dibuatlah multi area pada OSPF, agar router tidak akan merasa terbebani.


C. Persiapan Software dan Hardware

  • Seperangkat Komputer PC / Laptop
  • Aplikasi GNS3


D. Maksud dan Tujuan

    Kegiatan ini bermaksud untuk melatih kita melakukan konfigurasi routing dinamis OSPF pada sistem operasi IOS dan dapat menganalisis bagaimana cara kerja dari OSPF ini. Untuk tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menghubungkan antar jaringan yang berbeda network menggunakan routing protocol OSPF.

E. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

1. Hidupkan komputer anda dan bukalah aplikasi GNS3 
 

2. Untuk praktik routing ospf multi area kali ini, saya akan menggunakan 5 router dan 2 PC. Untuk topologinya dan perencanaan pemberian ipnya, buatlah seperti pada gambar di bawah ini. Bedanya dengan single area adalah pada topologi ini ada salah satu router (R3) yang bertindak sebagai Bourder Router, yaitu router yang didalamnya terdapat lebih dari satu area.

3. Untuk memudahkan cara menghidupkan perangkat-perangkat anda, blok semua perangkat anda --> kemudian klik pada tombol "Start" untuk menghidupkannya.

 

4. Selanjutnya untuk melakukan pengaturannya, kita harus membukanya dengan consolenya. untuk membuka console, klik kanan pada perangkat anda --> kemudian pilih "Custome console". 

5. Pada bagian "Choose a predefined command" saya atur dengan Mate Terminal, dikarenakan saya menggunakan Linux Mint 18 "Sarah" Mate. Kemudian klik "OK" untuk menerapkannya.

6. Selanjutnya akan muncul jendela pengaturan dari perangkat-perangkat kita dengan bentuk terminal.


7. Untuk konfigurasinya, langkah pertama yang kita lakukan adalah melakukan konfigurasi IP pada setiap perangkat sesuai dengan topologi yang telah kita buat. Berikut adalah konfigurasinya untuk setiap perangkatnya.

#############Pengaturan Pada PC1###############
PC1> ip 10.10.10.2/24 10.10.10.1

############Pengaturan Pada Router1############## 
R1#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R1(config)#int lo0 
R1(config-if)#ip addr 1.1.1.1 255.255.255.255
R1(config-if)#no sh
R1(config-if)#ex
R1(config)#
R1(config)#int fa0/1
R1(config-if)#ip addr 10.10.10.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no sh
R1(config-if)#ex
R1(config)#
R1(config)#int fa0/0
R1(config-if)#ip addr 10.10.20.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no sh
R1(config-if)#ex
R1(config)#

############Pengaturan Pada Router2############## 
R2#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R2(config)#int lo0 
R2(config-if)#ip addr 2.2.2.2 255.255.255.255
R2(config-if)#no sh
R2(config-if)#ex
R2(config)#
R2(config)#int fa0/0
R2(config-if)#ip addr 10.10.20.2 255.255.255.0
R2(config-if)#no sh
R2(config-if)#ex
R2(config)#
R2(config)#int fa0/1
R2(config-if)#ip addr 10.10.30.2 255.255.255.0
R2(config-if)#no sh
R2(config-if)#ex
R2(config)#

############Pengaturan Pada Router3##############
R3#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R3(config)#int lo0
R3(config-if)#ip addr 3.3.3.3 255.255.255.255
R3(config-if)#no sh
R3(config-if)#ex
R3(config)#
R3(config)#int fa0/1
R3(config-if)#ip addr 10.10.30.1 255.255.255.0
R3(config-if)#no sh
R3(config-if)#ex
R3(config)#
R3(config)#int fa0/0
R3(config-if)#ip addr 10.10.40.1 255.255.255.0
R3(config-if)#no sh
R3(config-if)#ex
R3(config)#

############Pengaturan Pada Router4##############
R4#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R4(config)#int lo0
R4(config-if)#ip addr 4.4.4.4 255.255.255.255
R4(config-if)#no sh
R4(config-if)#ex
R4(config)#
R4(config)#int fa0/0
R4(config-if)#ip addr 10.10.40.2 255.255.255.0
R4(config-if)#no sh
R4(config-if)#ex
R4(config)#
R4(config)#int fa0/1
R4(config-if)#ip addr 10.10.50.2 255.255.255.0
R4(config-if)#no sh
R4(config-if)#ex
R4(config)#

############Pengaturan Pada Router5############## 
R5#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R5(config)#int lo0
R5(config-if)#ip addr 5.5.5.5 255.255.255.255
R5(config-if)#no sh
R5(config-if)#ex
R5(config)#
R5(config)#int fa0/1
R5(config-if)#ip addr 10.10.50.1 255.255.255.0
R5(config-if)#no sh
R5(config-if)#ex
R5(config)#
R5(config)#int fa0/0
R5(config-if)#ip addr 10.10.60.1 255.255.255.0
R5(config-if)#no sh
R5(config-if)#ex

#############Pengaturan Pada PC1############### 
PC2> ip 10.10.60.2/24 10.10.60.1 

8. Setelah semua konfigurasi IP pada tiap perangkat telah selesai dan dirasa sudah benar, barulah selanjutnya kita melakukan routing OSPF untuk menghubungkan jaringan-jaringan yang berbeda tersebut. Untuk routingnya, kita harus mengkonfigurasikannya pada tiap-tiap router. Berikut ini adalah konfigurasinya :

#############Routing Pada Router1############### 
R1(config)#router ospf 20
R1(config-router)#network 1.1.1.1 0.0.0.0 area 0
R1(config-router)#network 10.10.10.0 0.0.0.255 area 0
R1(config-router)#network 10.10.20.0 0.0.0.255 area 0
R1(config-router)#

#############Routing Pada Router2############### 
R2(config)#router ospf 20
R2(config-router)#network 2.2.2.2 0.0.0.0 area 0
R2(config-router)#network 10.10.20.0 0.0.0.255 area 0
R2(config-router)#network 10.10.30.0 0.0.0.255 area 0
R2(config-router)#

#############Routing Pada Router3############### 
R3(config)#router ospf 20
R3(config-router)#network 3.3.3.3 0.0.0.0 area 0
R3(config-router)#network 10.10.30.0 0.0.0.255 area 0
R3(config-router)#network 10.10.40.0 0.0.0.255 area 10
R3(config-router)#

#############Routing Pada Router4############### 
R4(config)#router ospf 20
R4(config-router)#network 4.4.4.4 0.0.0.0 area 10
R4(config-router)#network 10.10.40.0 0.0.0.255 area 10
R4(config-router)#network 10.10.50.0 0.0.0.255 area 10
R4(config-router)#

#############Routing Pada Router5############### 
R5(config)#router ospf 20
R5(config-router)#network 5.5.5.5 0.0.0.0 area 10
R5(config-router)#network 10.10.50.0 0.0.0.255 area 10
R5(config-router)#network 10.10.60.0 0.0.0.255 area 10
R5(config-router)#


9. Untuk melihat daftar ip-ip router yang terkoneksi ke router kita, kita dapat mengeceknya dengan mengetikkan perintah "show ip ospf database" pada Privilege mode atau anda dapat menambahkan syntax "do" didepan perintah tersebut jika anda tiadk berda pada mode privillege.
 
Pada R1
 
Pada R5
 
Pada R3
 
Pada R3
 
Pada R3

Dari database-database diatas dapat di atas dapat kita simpulkan bahwa router yang terdapat pada area 0 hanya akan mendata router-router yang terdapat pada area tersebut. Begitu juga pada router area 10, dia hanya akan mendata router-router yang berada pada area tersebut. Sedangakn untuk router yang berperan sebgai router (R3) atau bisa dibilang penghubung antara area 0 dan area 10, dia akan mendata meua router yang terdapat pada kedua area tersebut.

10. Sedangkan untuk melihat rute dari routing kita, kita dapat melihatnya dengan mengetikkan perintah "show ip route" pada Privilege mode. Jika terdapat Huruf "O" didepan routingnya, itu berarti routing dari protocol OSPF pada satu area. Sedangkan jika terdapat huruf "O IA", itu berarti routing dari protocol OSPF yang ke beda area.
 

11. Selanjutnya cobalah buka pada konfigurasi R3 dant ketikkan perintah "show ip ospf" pada mode privilege. Jika anda berada pada mode lain, anda dapat menambahkan syntax "do" didepannya. contoh "do show ip ospf", dari sini terdapat keterangan "it is an area border router" yang berarti router 3 ini berperan sebagai border router (dalam 1 router terapat lebih dari 1 area).

12. Untuk menguji koneksi antar jaringan berbeda sudah terkoneksi atau belum, kita coba lakukan ping dari PC1 ke PC2 dan PC2 ke PC1. Jika ping berhasil, maka konfigurasi routing OSPF ini telah berhasil.

Ping dari PC1 ke PC2

 
Ping dari PC2 ke PC1

F. Referensi

+http://www.mikrotik.co.id/artikel_lihat.php?id=154
+Ebook : MODUL CISCO IDN.pdf
+Presentasi dari Om Danu Wiyoto.

G. Hasil dan Kesimpulan
     Dengan adanya router OSPF multi area ini, router tidak akan merasa terbebani karena router tersebut hanya akan mendata router-router yang berada pada areanya saja.


Read More