Showing posts with label Packet Tracer. Show all posts
Showing posts with label Packet Tracer. Show all posts

Friday, 26 August 2016

Konfigurasi Port Security Multi Violation pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-5)

Leave a Comment

I.    Pengertian

Port security adalah sebuah trafik kontrol yang bekerja di layer 2 data link. berfungsi untuk mendaftarkan dan membatasi perangkat end devices mana saja yang dapat terkoneksi pada suatu port di switch tersebut. Kalau Violation itu sendiri artinya merupakan pelanggaran, namun pada pengaturan ini lebih ke tindakan apa yang akan dilakukan oleh Switch jika terjadi pelanggaran ini.

II.    Tujuan dan Manfaat

1.    Konfigurasi Port Security dengan action lanjutan agar bisa lebih memudahkan administrator.
2.    Menerapkan semua tipe action pada Port Security ketika perangkatnya diubah.

III.    Latar Belakang

Keamanan jaringan memang perlu, namun dengan pengaturan basic action yang dilakukan oleh keamanan Port Security Switch itu masihlah shutdown interface. Hal ini terkadang menyebabkan kinerja dari suatu jaringan menjadi terganggu, maka dari itu seorang administrator memerlukan beberapa opsi action yang akan dilakukan kepada interface dengan keamanan MAC yang tidak sesuai, sehingga tidak mengganggu kinerja jaringan.

IV.    Alat dan Bahan

1.    Dalam Virtual,
    a.    Switch
    b.    2 set PC Client
2.    Fisik
    a.    PC atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer

V.    Standar Operasional Prosedur

1.    Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2.    Memakai pakaian kerja.
3.    Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4.    Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5.    Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6.    Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI.    Tahap Pelaksanaan

1.    Topologi Jaringan


2.    Langkah Kerja

1.    Pertama-tama kita masuk ke Switch dan mengecek MAC address yang terkoneksi dengan Switch. Sebenarnya hal ini opsional saja jika kita mengkonfigurasi violation dari Port Security dengan digabungkan dengan Port Security Static maupun Sticky (Dynamic).  

2.    Kalau menggunakan Port Security Sticky, langsung saja masuk pengaturan seperti ini.          

  
int fa0/1                                                                   masuk ke pengaturan int fa0/1 (opsi range hanya opsional jika banyak ip, namun jika satu ip tetap bisa)
switchport mode access                                          mengubah mode port Switch menjadi Access.
switchport port-security                                        mengaktifkan keamanan dari port switch
switchport port-security mac-address sticky       menseting keamanan menjadi berdasarkan mac adress dengan tipe sticky
switchport port-security violation restrict           mengatur aksi yang akan diberikan kepada interface yang sudah diberi security jika diakses secara tidak sah (untuk yang bawah hampir sama dengan yang atas ini, dan untuk tipe-tipe aksi saat terjadi pelanggaran dapat dilihat di bawah.)
int fa0/2
switchport mode access
switchport port-security
switchport port-security mac-address sticky
switchport port-security violation protect
int fa0/3
switchport mode access
switchport port-security
switchport port-security mac-address sticky
switchport port-security violation shutdown

Keterangan jenis Aksi jika terjadi Violation (pelanggaran) :
  • Shutdown : mematikan port interface yang sudah diberi pengaturan (tipe ini digunakan untuk pengaturan default jika tidak ada konfigurasi violation).
  • Protect : Memblokir data yang akan dikirimkan, tanpa memberikan notifikasi.
  • Restrict : Hampir sama dengan Protect hanya saja untuk yang ini akan mengirimlan notifikasi SNMP.
3.   Setelah kita konfigurasi, kita dapat melihat konfigurasi tersebut dengan syntax  show port-security. Outputnya seperti di bawah ini. Dapat terlihat juga Jenis aksi yang dipakai jika terjadi pelanggaran.

4.   Untuk sementara hasil  topologinya seperti ini.

5.   Kita dapat melakukan ping antar Client pada PC1, PC2, dan PC3.



3.    Pengujian

1.   Untuk pengujiannya kita  langsung coba dengan mengubah Port interface dari masing-masing client seperti gambar di bawah ini. Maka akan terlihat salah satu pengaturan dengan violation shutdown tadi maka akan mati. Lalu sisanya masih hidup namun tidak bisa melakukan ping.  

2.   Berikut ini screenshot dari Client yang tidak bisa melakukan ping.




VII.    Hasil dan Kesimpulan


Dengan ini simulasi konfigurasi Port Security Violation sudah berhasil, tinggal penerapan dalam jaringan asli dan konfigurasi tingkat lanjutnya. Untuk pengaturannya sendiri bisa dikombinasikan dengan pengaturan Port Security Static maupun Sticky.

 VIII.   Referensi

  1. http://www.zufar.id/2016/02/port-security-cisco.html 
  2. Buku Modul Cisco IDN (Best Networking Cisco by Untung Wahyudi)
Read More

Simulasi Konfigurasi Port Security Dynamic (Sticky) pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-5)

Leave a Comment

I.    Pengertian

Port security adalah sebuah trafik kontrol yang bekerja di layer 2 data link. berfungsi untuk mendaftarkan dan membatasi perangkat end devices mana saja yang dapat terkoneksi pada suatu port di switch tersebut. Maksud dari Sticky itu maksudnya pengaturan Security MAC address menyesuaikan dengan MAC yang terakhir kali tersambung tanpa harus Administrator mengetahui dan memasukkannya secara manual. 

II.    Tujuan dan Manfaat

1.    Konfigurasi Port Security Dynamic mode untuk mengamankan konektifitas pada Port Switch agar hanya bisa digunakan oleh Perangkat tertentu.
2.    Pengaplikasian Port Security Dynamic dalam sebuah jaringan dan penggunaannya.

III.    Latar Belakang

Dengan banyaknya jaringan, maka semakin banyak juga kebutuhan akan keamanan jaringan yang disuplay oleh sebuah Switch. Dalam penerapannya seorang administrator kadang kesulitan dalam membuat konfigurasi keamanan dengan menginputkan MAC address satu persatu. Maka dari itulah ada fitur baru yang memungkinkan sebuah Port Security untuk menyimpan MAC terakhir dari suatu perangkat dan memasukkannya dalam list keamanan.

IV. Alat dan Bahan

1. Dalam Virtual,
    a. Switch
    b. 2 set PC Client
2. Fisik
    a. PC atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer

V.    Standar Operasional Prosedur

1.    Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2.    Memakai pakaian kerja.
3.    Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4.    Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5.    Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6.    Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI.    Tahap Pelaksanaan

1.    Topologi Jaringan 

2.    Langkah Kerja

a.    Untuk konfigurasinya langsung saja masuk ke pengaturan pada Switch. Untuk MAC address dari Client kita tidak perlu mengetahuinya. Karena prinsip dari Port Security Sticky ini MAC address dari perangkat terakhir yang tertancap akan terekam dan tidak perlu memasukkannya secara manual. Langsung saja pengaturannya seperti gambar di bawah ini.  


Keterangan :        
int range fa0/1-2                                        masuk ke pengaturan interface range 1 sampai 2
switchport mode access                            mengubah mode pengaturan port menjadi access
switchport port-security                           mengaktifkan pengaturan port-security
switchport port-security mac-address sticky                mengubah pengaturan dari port-security menjadi mac address tipe sticky.
b.    Kita bisa melihat hasil konfigurasi tipe keamanannya dengan perintah show port-security address

3.    Pengujian

a.    Sebelumnya kita coba ping dari Client PC1 ke PC2 dan sebaliknya untuk melihat apakah masih tersambung atau tidak.    

Seharusnya masih tersambung jika port belum diubah.
b.    Setelah itu kita coba tukar Port interface yang digunakan untuk menancapkan PC Client. Jika diping akan gagal dan topologinya akan berubah menjadi seperti ini. Interface akan otomatis mati.    

c.    Berikut ini ketika port interface sudah diubah. Antara PC1 dan juga PC2 tidak bisa saling ping.     

VII.    Hasil dan Kesimpulan

Dengan ini konfigurasi Port Security dengan tipe Sticky sudah berhasil dikonfigurasi dan dapat diterapkan dalam jaringan. Untuk menyalakan kembali dapat dilakukan seperti pada postingan saya tentang pengaturan konfigurasi  Port Security Static.

 VIII.   Referensi

  1. http://www.zufar.id/2016/02/port-security-cisco.html 
  2. Buku Modul Cisco IDN (Best Networking Cisco by Untung Wahyudi)
Read More

Konfigurasi Port Security Static pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-5)

Leave a Comment

I.    Pengertian

Port security adalah sebuah trafik kontrol yang bekerja di layer 2 data link. berfungsi untuk mendaftarkan dan membatasi perangkat end devices mana saja yang dapat terkoneksi pada suatu port di switch tersebut. Maksud dari Sticky itu maksudnya pengaturan Security MAC address menyesuaikan dengan MAC yang terakhir kali tersambung tanpa harus Administrator mengetahui dan memasukkannya secara manual. 

II.    Tujuan dan Manfaat

1.    Konfigurasi Port Security Static mode untuk mengamankan konektifitas pada Port Switch agar hanya bisa digunakan oleh Perangkat tertentu.
2.    Pengaplikasian Port Security Static dalam sebuah jaringan dan penggunaannya.

III.    Latar Belakang

Dengan banyaknya jaringan, maka semakin banyak juga kebutuhan akan keamanan jaringan yang disuplay oleh sebuah Switch. Dalam penerapannya seorang administrator kadang kesulitan dalam membuat konfigurasi keamanan dengan menginputkan MAC address satu persatu. Maka dari itulah ada fitur baru yang memungkinkan sebuah Port Security untuk menyimpan MAC terakhir dari suatu perangkat dan memasukkannya dalam list keamanan.

IV. Alat dan Bahan

1. Dalam Virtual,
    a. Switch
    b. 2 set PC Client
2. Fisik
    a. PC atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer

V.    Standar Operasional Prosedur

1.    Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2.    Memakai pakaian kerja.
3.    Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4.    Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5.    Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6.    Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI.    Tahap Pelaksanaan

1.    Topologi Jaringan 

2.    Langkah Kerja

a.    Untuk konfigurasinya langsung saja masuk ke pengaturan pada Switch. Untuk MAC address dari Client kita tidak perlu mengetahuinya. Karena prinsip dari Port Security Sticky ini MAC address dari perangkat terakhir yang tertancap akan terekam dan tidak perlu memasukkannya secara manual. Langsung saja pengaturannya seperti gambar di bawah ini.  


Keterangan :        
int range fa0/1-2                                        masuk ke pengaturan interface range 1 sampai 2
switchport mode access                            mengubah mode pengaturan port menjadi access
switchport port-security                           mengaktifkan pengaturan port-security
switchport port-security mac-address sticky                mengubah pengaturan dari port-security menjadi mac address tipe sticky.
b.    Kita bisa melihat hasil konfigurasi tipe keamanannya dengan perintah show port-security address

3.    Pengujian

a.    Sebelumnya kita coba ping dari Client PC1 ke PC2 dan sebaliknya untuk melihat apakah masih tersambung atau tidak.    

Seharusnya masih tersambung jika port belum diubah.
b.    Setelah itu kita coba tukar Port interface yang digunakan untuk menancapkan PC Client. Jika diping akan gagal dan topologinya akan berubah menjadi seperti ini. Interface akan otomatis mati.    

c.    Berikut ini ketika port interface sudah diubah. Antara PC1 dan juga PC2 tidak bisa saling ping.     

VII.    Hasil dan Kesimpulan

Dengan ini konfigurasi Port Security dengan tipe Sticky sudah berhasil dikonfigurasi dan dapat diterapkan dalam jaringan. Untuk menyalakan kembali dapat dilakukan seperti pada postingan saya tentang pengaturan konfigurasi  Port Security Static.

 VIII.   Referensi

  1. http://www.zufar.id/2016/02/port-security-cisco.html 
  2. Buku Modul Cisco IDN (Best Networking Cisco by Untung Wahyudi)

Read More

Konfigurasi DHCP Server Router pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-5)

Leave a Comment

I. Pengertian

DHCP (Dynamic Host Configuration Protoocol) adalah Network Protokol yang distandarisasi pada Internet Protokol yang berfungsi untuk mendistribusikan konfigurasi jaringan seperti ip address, DNS server address, gateway address dan sebagainya. Dengan menggunakan DHCP, komputer Client merequest IP address dan parameter jaringan lainnya secara otomatis dari DHCP Server. Yang kemudian pada akhirnya mengurangi kerja dari Network Administrator.

II. Tujuan dan Manfaat

1. Konfigurasi Router sebagai Server DHCP.
2. Menerapkan konfigurasi DHCP Server pada Jaringan.

III.  Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya internet yang meningkatkan jumlah jaringan di dunia ini, mengakibatkan munculnya perangkat-perangkat jaringan yang membantu dalam proses pembuatan jaringan. Salah satunya merupakan Router, yakni perangkat yang fungsinya untuk menghubungkan lebih dari satu jaringan, serta mencari rute tercepat dalam melintasi antar masing-masing jaringan tersebut. Dalam perkembangannya Router kini tidak hanya memiliki dua fungsi tersebut saja, kini router mampu merangkap fungsi sebagai DHCP server yang kemudian dapat membuat layanan DHCP untuk Client yang terkoneksi dengan Router.

IV. Alat dan Bahan

1. Dalam Virtual, 
   a. Router
   b. Switch
   c. 5 set PC Client 
2. Fisik
   a. PC atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer

V. Standar Operasional Prosedur

1. Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2. Memakai pakaian kerja.
3. Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4. Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5. Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6. Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI. Tahap Pelaksanaan

1. Topologi Jaringan


2. Langkah Kerja

1. Pertama-tama kita masuk Router yang akan dipakai untuk server DHCP. Untuk menyesuaikan topologi saya, saya konfigurasi pada Router1. Masuk mode privillege, kemudian mode configure terminal setelah itu langsung membuat DHCP pool. Untuk pengaturan IP tidak saya masukkan ke dalam pengaturan di bawah ini. Namun untuk milik saya sudah sebelumnya saya seting seperti topologi di atas. 

Keterangan (untuk konfigurasi dasar tidak saya beri keterangan):
enable
configure terminal
ip dhcp pool DHCP1          membuat pengaturan DHCP pool dengan nama DHCP1 lalu                                                                  masuk ke pengaturan lanjutan dari pengaturan pool tersebut.
network 192.168.1.0 255.255.255.0  mengatur network DHCP pool yang sedang dikonfigurasi                                                                        menjadi 192.168.1.0 dengan subnet mask 255.255.255.0.
default-router 192.168.1.254          mengatur gateway DHCP pool yang sedang dikonfigurasi                                                                      menjadi 192.168.1.254
ex 

2. Setelah untuk tambahan pengaturan, kita bisa memasukkan pengaturan tambahan untuk  DHCP. Yakni memasukkan ip yang dikecualikan dari ip dhcp pool, sehingga ip tersebut tidak akan dipakai oleh Client. Kita gunakan syntax ip dhcp excluded-address [ipyangdikecualikan]. Contohnya ip dhcp excluded-address 192.168.1.254.

3. Setelah itu kita sudah bisa menggunakan pengaturan tadi. Untuk mengecek pengaturan DHCP yang sudah kita buat tadi kita bisa menggunakan syntax show ip dhcp pool. Nanti akan terlihat tampilan seperti ini.

4. Pada Client seting juga pengaturan menjadi DHCP agar client merequest ip secara otomatis.

5. Lalu juga bisa melihat list ip yang sudah didapatkan oleh Client dengan perintah show ip dhcp binding. 

3. Pengujian

1. Untuk pengujiannya bisa langsung ping dari router menuju salah satu Client apakah sudah memang mendapat ip apa belum. Contohnya seperti gambar di bawah ini.


2. Kita juga dapat menguji dengan melakukan ping dari Client menuju router seperti ini (ip 192.168.1.264). Dan juga melakukan ping menuju client lain (ip 192.168.1.2). 

VII. Hasil dan Kesimpulan

Dengan ini konfigurasi Router sebagai server DHCP sudah berhasil dilakukan dan dapat diterapkan dalam jaringan untuk memudahkan saat konfigurasi ip pada client-client yang jumlahnya cukup banyak. 

VIII. Referensi

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Dynamic_Host_Configuration_Protocol
  2. buku ccna lab guide nixtrain_1st edition_full version by Agus Setiawan
  3. buku Best Networking Cisco by Untung Wahyudi

Read More

Konfigurasi Hot Standby Routing Protocol pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-5)

Leave a Comment

I. Pengertian

HSRP (Hot Standby Routing Protocol) merupakan redudansi yang dikembangkan oleh perangkat cisco yang berfungsi dalam membuat toleransi default gateway. Protokol ini kemudian digunakan dalam membuat cadangan Rute dalam suatu jaringan, sehingga apabila terjadi kerusakan dalam salah satu hop, maka masih ada Rute lain yang dapat digunakan.

II. Tujuan dan Manfaat

1. Mampu konfigurasi HSRP (Hot Standby Routing Protocol) hingga dapat dites pada jaringan
2. Mampu membuat rute cadangan dengan dasar praktik HSRP pada suatu jaringan dan mengerti algoritmanya.

III. Latar Belakang

Dalam membangun suatu jaringan, terkadang kita memiliki suatu resiko yang sulit untuk dihindari. Ketika sudah membangun suatu jaringan yang sudah beroperasi secara penuh dan harus selalu tersambung, kadang faktor yang paling sulit dihindari adalah faktor alam. Faktor alam kadang membuat topologi yang sudah kita buat dengan waktu yang cukup lama dan dengan resource yang cukup banyak rusak dan menimbulkan kerugian saat terjadi down time. Untuk mengatasi itu maka dibuatlah protocol yang berfungsi untuk membuat  jaringan ketika terjadi kerusakan pada bagian-bagian tertentu. Untuk HSRP sendiri lebih berfokus pada route cadangan pada jaringan agar ketika salah satu rute rusak, bisa melewati rute lainnya.

IV. Alat dan Bahan

1. Dalam Virtual, 
  • Switch
  •  set PC Client 
2. Fisik
  • PC atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer

V. Standar Operasional Prosedur

1. Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2. Memakai pakaian kerja.
3. Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4. Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5. Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6. Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI. Tahap Pelaksanaan

1. Topologi Jaringan

2. Langkah Kerja

1. Pertama-tama kita  langsung masuk ke pengaturan pada Router, masukkan pengaturan seperti gambar di bawah ini. Router0 ini akan dibuat sebagai Router utama dengan prioritas tertinggi di antara Router-Router lainnya. Lalu pengaturan untuk Router1 yang nantinya akan dipakai sebagai Router Standby.

Konfigurasi untuk Router0 :

#Masuk ke mode Global
enable
conf term
#Setelah itu konfigurasi interface gig0/0 dan HSRP dari arah jaringan 192.168.1.0/24
int gig0/0
ip add 192.168.1.2 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
standby version 2
standby 1 ip 192.168.1.1
standby 1 priority 120
standby 1 preempt
no shut
#Kemudian konfigurasi interface gig0/1 dan HSRP dari arah jaringan 192.168.2.0/24
int gig0/1
ip add 192.168.2.2 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
standby version 2
standby 1 ip 192.168.2.1
standby 1 priority 120
standby 1 preempt
no shut


Konfigurasi untuk Router1 :

#Masuk ke mode Global
enable
conf term
#Setelah itu konfigurasi interface gig0/0 dan HSRP dari arah jaringan 192.168.1.0/24
int gig0/0
ip add 192.168.1.3 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
standby version 2
standby 1 ip 192.168.1.1
standby 1 priority 100
standby 1 preempt
no shut
#Kemudian konfigurasi interface gig0/1 dan HSRP dari arah jaringan 192.168.2.0/24
int gig0/1
ip add 192.168.2.3 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
standby version 2
standby 1 ip 192.168.2.1
standby 1 priority 100
standby 1 preempt
no shut

Keterangan :
standby 1 ip 192.168.1.1   mengatur standby dengan grup 1 dengan menggunakan ip router virtual 192.168.1.1
duplex auto                            mengatur pengaturan mode duplex
speed auto                              mengatur pengaturan kecepatan interface 
standby version 2                   mengatur pengaturan versi standby
standby 1 priority 100            mengatur pengaturan prioritas standby
standby 1 preempt                  mengaktifkan fungsi agar Router active default kembali aktif saat menyala tanpa reboot semua Router.
2. Karena tadi kita sudah konfigurasi HSRP pada kedua Router, kemudian saya tinggal mencoba koneksi dengan melakukan tracert menuju Client dengan ip 192.168.2.100. Pada saat Primary Router interface fa0/0 nya masih aktif, maka seharusnya Hop yang akan terdeteksi pada Tracert ini seharusnya ip dari Primary Router tersebut.

3. Lalu untuk status Standby bisa dilihat dengan perintah show standby pada mode privilege. Saat Primary Router interface-nya masih dalam kondisi up, maka output akan seperti ini. Pada bagian Active Router dan Standby Router. Pasti Active Router merupakan ip interface dari Primary Router dan Standby Router-nya ip dari interface Secondari Router.

3. Pengujian

1. Untuk pengujiannya kita bisa mencoba dengan mematikan interface pada Primary Router, sehingga topologinya menjadi seperti ini. Hop merah berarti down. 


2. Kita cek lagi Status Standby dengan perintah show standby pada masing-masing router. Maka pada bagian Active Router dan Standby Router tadi akan berubah menjadi seperti ini. Ip Secondary Router akan berubah menjadi active router dan standby router akan berubah menjadi unknow (jika tidak ada router standby dengan prioritas lebih rendah) atau ip router standby yang prioritasnya lebih rendah.


3. Kita bisa mengecek juga hopnya menggunakan fitur tracert pada PC Client untuk tracert menuju Server seperti yang tadi. Maka hopnya akan berubah menjadi ip dari interface secondary router.



VII. Hasil dan Kesimpulan

Dengan ini berhasil konfigurasi HSRP guna membuat rute cadangan ketika terjadi down di hop-hop tertentu. Untuk pengaturan ini sudah terkonfigurasi baik dari arah jaringan 192.168.1.0/24 maupun dari jaringan 192.168.2.0/24.

VIII. Referensi

  1. CCNA Routing and Switching Practice and Study Guide: Exercises, Activities, and Scenarios to Preparefor the ICND2 (200-101) Certification Exam by Allan Johnson
  2. http://www.packettracernetwork.com/tutorials/hsrp-configuration-new.html
  3. http://www.enterprisenetworkingplanet.com/netsysm/article.php/1438251/StepbyStep-With-Ciscos-Hot-Standby-Router-Protocol.htm
Read More

Konfigurasi Network Address Translations Statik pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-4)

Leave a Comment

I. Pengertian

NAT (Network Addresss Translation) Satic adalah protokol yang digunakan untuk mentranslasikan IP lokal ke IP Publik yang dikonfigurasi secara Manual dan untuk satu IP Publik hanya bisa dipakai untuk translasi satu IP Lokal saja.

II. Tujuan dan Manfaat

1. Konfigurasi Network Address Translation Statik pada Router Cisco.
2. Menerapkan fungsi NAT Statik pada jaringan.

III. Latar Belakang

Untuk menghubungkan antara masing-masing jaringan di dunia, kita memerlukan ip public yang mana saling terhubung antar negara di dunia. Meskipun dalam mentranslasikan ip pada jaringan local sudah bisa dilakukan dengan pengaturan NAT dasar, namun dengan sistem dasar yang mentranslasikan satu ip local menjadi satu ip public hal ini menyebabkan semakin berkurang ip public di dunia. Maka dari itu dibuatlah protokol yang mampu menghemat ip public dengan cara mentranslasikan beberapa ip local menjadi satu ip public. 

IV. Alat dan Bahan

1. Dalam Virtual,
   a. 2 Switch
   b. 2 set PC
   c. 2 set Router
2. Fisik
   a. PC atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer

V. Standar Operasional Prosedur

1. Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2. Memakai pakaian kerja.
3. Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4. Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5. Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6. Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI. Tahap Pelaksanaan

1. Pengaturan Dasar

  1. Berikut ini topologinya: 
    Untuk Routing, pastikan semua tersambung kecuali jaringan pada Client jangan dimasukkan dalam routing protokol karena nanti diperumpakan sebagai local Private. Jika dirouting maka NAT tidak akan ada gunanya. Untuk topologi saya di atas tidak menggunakan Routing karena jika dirouting maka gatewaynya akan saling terkait, jadi saya hanya mensetting gateway pada Client saja.
  2. Lalu setting juga IP pada laptop-laptop client.

2. Langkah Kerja

  1. Pertama-tama kita tes dulu koneksi dari Client (Laptop1) menuju ke salah satu loopback pada Router 2 lain ataupun dari Laptop2 menuju loopback dari Router 1. 



  2. Lalu masuk ke pengaturan Router untuk menambahkan konfigurasi NAT. Pertama kita masuk ke Router 1.
    Berikut ini syntaxnya :
  3. int fa0/0
    ip nat inside
    int fa1/0
    ip nat outside
    exit
    ip nat inside source static 192.168.1.1 10.10.10.11
  4. Setelah itu masuk pengaturan pada Router2. Pengaturannya hampir sama dengan pada pengaturan Router1, hanya saja ip-nya menyesuaikan dengan jaringan yang terkoneksi.
    int fa0/0
    ip nat inside
    int fa1/0
    ip nat outside
    exit
    ip nat inside source static 192.168.2.1 10.10.10.21

3. Pengujian

  1. Selanjutnya kita bisa langsung mengujinya dengan melakukan ping dari Laptop Client menuju ke ip loopback salah Satu Router dari Network lain. Seperti semisalnya ini dari Laptop 1 ping menuju loopback Router 2. Jika pengaturan benar, maka seharusnya bisa terkoneksi.
  2. Begitu pula untuk Laptop 2 ping menuju loopback dari Router 1. 
  3. Lalu untuk pengaturan yang sudah kita seting tadi kita bisa melihatnya dengan syntax show ip nat translations. Maka outputnya akan terlihat ip apa saja yang sudah ditranslasikan. Dapat dilihat juga bahwa ip hasil translasi hanya satu, namun port translasinya berubah-berubah tergantung ip yang ditranslasikan.

  4. Begitu juga pada Router2 hampir sama dengan pada Router1.  

VII. Hasil dan Kesimpulan

Dengan ini selesai konfigurasi NAT Statik pada topologi jaringan dasar. Lalu untuk penerapannya sudah bisa juga dijaringan dan saling terintegrasi. Namun untuk versi statik, translasi IP address hanya satu IP publik untuk satu IP lokal, sehingga masih akan tetap memakan reserve IP Public. Protocol ini sudah cukup jarang digunakan pada jaringan sekarang.

VIII. Referensi

Read More

Thursday, 25 August 2016

Konfigurasi Access List Extended pada Cisco Packet Tracer (Training CCNA Nixtrain hari ke-4)

Leave a Comment

I. Pengertian

Access List adalah salah satu protocol keamanan jaringan yang fungsinya memblokir suatu IP atau Port tertentu ketika melewati perangkat Router yang terkonfigurasi ACL. Jadi sistem kerja dari Access List itu sendiri hampir seperti firewall yang sifatnya memfilter segala koneksi yang melewatinya dan memutuskan apakah koneksi tersebut diijinkan untuk lewat atau tidak.

II. Tujuan dan Manfaat

1. Siswa dapat mempelajari dan memahami konsep ACL Extended pada Perangkat Cisco.
2. Siswa dapat mempraktikan penggunaan ACL Extended pada perangkat Cisco Packet Tracer.
3. Siswa dapat konfigurasi ACL Extended sampai selesai dan bisa digunakan pada jaringan.

III. Latar Belakang

Dalam jaringan memang suatu keamanan tidak akan selalu cukup begitu saja, karena lama kelamaan security itu bisa saja dibobol oleh peretas atau pelaku lainnya. Baik bagaimanapun bentuk keamanan tersebut tidak akan selalu cukup. Seiring dengan perkembangan perangkat jaringan, Cisco mengembangkan fitur yang bisa berfungsi sebagai salah satu pengaman jaringan, yakni Access List.

IV. Alat dan Bahan

1. Dalam Virtual
  a. Router
  b. Switch
  c. PC
2. Bentuk Fisik
  a. Komputer atau laptop yang sudah terinstall Cisco Packet Tracer.

V. Standar Operasional Prosedur

1. Berdo’a sebelum melakukan pekerjaan.
2. Memakai pakaian kerja.
3. Melakukan pekerjaan sesuai rencana.
4. Tidak mengubah fokus ketika sedang bekerja.
5. Melakukan pekerjaan hingga selesai.
6. Berdo’a selesai melakukan pekerjaan.

VI. Tahap Pelaksanaan

1. Topologi Jaringan


2. Langkah Kerja

1. Pertama-tama kita  pastikan pengaturan IP dari Laptop Client sudah sama seperti topologi di atas. Gunakan IP dari interface router yang satu jaringan dengan Laptop sebagai Gateway.
Ini Laptop 1.
 Lalu yang ini Laptop 2.

2. Kemudian selanjutnya kita pastika seluruh jaringan bisa saling terkomunikasi. Untuk hal ini kita harus konfigurasi Routing. Kalau milik saya menggunakan Routing Protocol OSPF. Berikut ini syntaxnya sekaligus setting IP Router-nya.

Router 1 :
enable
conf term
int fa0/0
ip add 192.168.1.254 255.255.255.0
no shut
int fa1/0
ip add 10.10.10.1 255.255.255.0
no shut
int lo1
ip add 172.16.1.1 255.255.255.0
int lo2
ip add 172.16.2.2 255.255.255.0
exit
router ospf 10
network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 0
network 10.10.10.0 0.0.0.255 area 0
network 172.16.1.0 0.0.0.255 area 0
network 172.16.2.0 0.0.0.255 area 0

Router 2 :

enable
conf term
int fa0/0
ip add 192.168.2.254 255.255.255.0
no shut
int fa1/0
ip add 20.20.20.1 255.255.255.0
no shut
int lo1
ip add 172.16.3.3 255.255.255.0
int lo2
ip add 172.16.4.4 255.255.255.0
exit
router ospf 10
network 192.168.2.0 0.0.0.255 area 0
network 20.20.20.0 0.0.0.255 area 0
network 172.16.3.0 0.0.0.255 area 0
network 172.16.4.0 0.0.0.255 area 0

Router Central

enable
conf term
int fa0/0
ip add 10.10.10.2 255.255.255.0
no shut
int fa1/0
ip add 20.20.20.2 255.255.255.0
no shut
router ospf 10
network 10.10.10.0 0.0.0.255 area 0
network 20.20.20.0 0.0.0.255 area 0

Jika sudah benar Routingnya maka seharusnya antara Laptop 2 (192.168.2.1) ke Laptop 1 (192.168.1.1) dan Server (192.168.1.2) Lbisa tersambung.

3. Setelah itu kita konfigurasi SSH Server pada R1 untuk pengujian koneksi yang diizinkan nanti. Berikut ini syntax konfigurasinya (teks dengan background kuning bisa diisi sesuai keinginan).
enable
conf term
hostname R1
ip domain-name lucky.net
username lucky secret luckhy007
line vty 0 4
password luckhy007vty
transport input all
exit
crypto key generate rsa
1024
Sekalian kita uji koneksi remote SSH-nya dari Laptop 1.


4.  Selanjutnya kita bisa langsung ke tahap pengaturan ACL. Untuk pengaturan ACL yang akan saya konfigurasi adalah sebagai berikut ini :

  • Mengizinkan Host dengan IP 192.168.2.1 mengakses SSH Router 1 (melalui port 22) 
  • Mengizinkan Network manapun untuk mengakses HTTP kemanapun.
  • Blokir semua trafik lainnya (yang mana pada ACL Extended sudah otomatis terblokir akses lainnya yang tidak di permit).
Berikut ini pengaturannya :
enable
conf ter
access-list 100 permit tcp host 192.168.2.1 host 10.10.10.1 eq 22
access-list 100 permit tcp any any eq 80
int fa1/0
ip access-group 100 out
Pengaturan tersebut kita terapkan pada R2.

5.  Setelah itu selanjutnya kita uji hasil pengaturan tadi. Jika sudah benar maka dari Laptop 2 ketika ping menuju Network manapun akan selalu gagal kecuali jaringannya sendiri dan jaringan yang terkoneksi secara langsung dengan R2.
Tapi untuk akses remote SSH dari Laptop 2 ke R1 masih bisa seperti ini. Untuk password masukkan password saat pengaturan pada mode line vty 0 4 tadi.

Selain itu jika kita menggunakan akses melalui port 80 (HTTP atau Web) maka akses kemanapun akan diizinkan. Untuk mengujinya pertama masuk ke tab Desktop dari Laptop 2. Kemudian pilih Web Browser.
Setelah itu pada bagian URL Address, masukkan IP dari PC Server yang digunakan Sebagai Web Server. Tiap-tiap PC pada Cisco sudah aktif Web Server-nya namun jika kita juga bisa mengaktifkan manual dengan masuk tab Desktop Server, lalu klik HTTP kemudian pastikan status pada bagian kanan on semua.
Kembali ke topik utama, setelah memasukkan IP dari Web Server tadi, tekan enter atau klik Go. 

Maka selanjutnya akan terbuka tampilan halaman awal default dari Web Server.

Konfigurasi telah selesai.

VII. Hasil dan Kesimpulan

ACL Extended berbeda dengan versi standart-nya yang mana konfigurasi dari ACL Extended ini sendiri lebih spesifik dan bisa mengizinkan host asal maupun host tujuan. Dalam penerepannya ACL Extended bisa memfilter suatu akses tanpa harus memfilter keseluruhan akses sehingga layanan lainnya tidak terganggu. Lalu di sisi lain ACL Extended juga akan menerapkan pengaturan otomatis deny ataupun permit. Jika kita mensetting permit, maka otomatis akses lain yang tidak kita beri permit akan deny dan sebaliknya. Dengan begitu hal ini juga bisa menjadi catatan jika kita ingin konfigurasi permit maka permit juga akses-akses lainnya, jangan cuma salah satu. 

VIII. Referensi

  1. Buku Cisco Certified Network Associate Training by Ardes Setiawan (www.nixtrain.com)
Read More